REPRESENTASI BULLYING TERHADAP KELAS SOSIAL(Analisis Semiotika Roland Barthes Dalam Drama Korea Pyramid Game Episode 7 & 8)

Bunga, Edelweis and Dian, Novitasari, M.IKom. and Septiana, Wulandari, M.IKom. (2025) REPRESENTASI BULLYING TERHADAP KELAS SOSIAL(Analisis Semiotika Roland Barthes Dalam Drama Korea Pyramid Game Episode 7 & 8). Other thesis, Universitas Baturaja.

[thumbnail of COVER_Bunga.pdf] Text
COVER_Bunga.pdf

Download (2MB)
[thumbnail of ABSTRAK..pdf] Text
ABSTRAK..pdf

Download (219kB)
[thumbnail of BAB I..pdf] Text
BAB I..pdf

Download (267kB)
[thumbnail of BAB II..pdf] Text
BAB II..pdf

Download (384kB)
[thumbnail of BAB III.pdf] Text
BAB III.pdf

Download (226kB)
[thumbnail of BAB IV..pdf] Text
BAB IV..pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[thumbnail of BAB V..pdf] Text
BAB V..pdf
Restricted to Repository staff only

Download (189kB)
[thumbnail of DAFTAR PUSTAKA..pdf] Text
DAFTAR PUSTAKA..pdf

Download (170kB)

Abstract

Bullying terhadap kelas sosial merupakan salah satu bentuk perilaku intimidasi didasari adanya perbedaan status sosial, ekonomi maupun budaya dalam suatu kelompok atau individu tertentu, yang berdampak pada kondisi psikologis seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi bullying terhadap kelas sosial dalam drama Korea pyramid game episode 7 & 8. Paradigma bersifat kritis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode semiotika Roland Barthes, yang mencakup tiga tingkatan makna yaitu, denotatif,konotatif, dan mitos. Peneliti membagi drama Korea Pyramid Game Episode 7 & 8 menjadi 16 frame yang menggambarkan aspek bullying terhadap kelas sosial.
Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa bullying terhadap kelas sosial yang terjadi dalam drama Pyramid Game episode 7 & 8 terdapat lima bentuk, seperti bullying verbal, gestur, fisik, seksual, dan sosial. Drama ini merepresentasikan
bahwa tidak hanya tentang kekerasan antarindividu tetapi juga sistem dan kelas sosial timpang dapat menciptakan ruang bullying yang dilegalkan dan dibiarkan berlangsung demi mempertahankan kekuasaan kelompok elit. Kemudian
ditemukan makna konotatif yang dilakukan secara berulang-ulang, sehingga mendapatkan mitos yaitu dominasi siswa kelas sosial tinggi dianggap sebagai hal wajar di lingkungan sekolah, kekerasan fisik dan verbal merupakan hal lumrah
untuk menunjukkan kekuatan dan mempertahankan posisi, serta orang yang tidak mengikuti arus mayoritas layak dikucilkan.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: Universitas Baturaja > Jurnal > FISIP > Ilmu Komunikasi
UBR > Ilmu Komunikasi
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi
Depositing User: Yudith UNBARA
Date Deposited: 21 May 2026 01:19
Last Modified: 21 May 2026 01:19
URI: https://repository.unbara.ac.id/id/eprint/2530

Actions (login required)

View Item
View Item